Di halaman rumah Walikota, Lynx berdiri seorang diri, menatap langit malam yang kelam. Bintang-bintang berkelip samar di antara awan gelap, seolah menyimpan rahasia yang dalam. Banyak hal yang harus segera di temukannya. Leena dan suku Surya.

Jelita mendekat, wajahnya tampak serius, berbeda dari biasanya.

"Xiao Ling, aku ingin membicarakan sesuatu," katanya pelan, suaranya bergetar dengan ketegangan. Dia tahu, memberi tahu Lynx tentang hal ini bisa menyakiti dirinya, tetapi dia dengan tulus ingin membantu kepala sukunya menemukan Leena dan yang lainnya.

Lynx meliriknya sekilas, merasakan ketidakberdayaan yang menyelimuti suasana. "Apa?"

Jelita menarik napas dalam-dalam, berusaha menata pikirannya sebelum melanjutkan. "Aku ingin memberitahukan mengenai Ling Mei. Aku melihat sesuatu yang aneh dengan Ling Mei terutama saat kamu berkata ingin menyelamatkan istri Walikota dan Li Mei..."

Lynx mengernyit, mendengarkan dengan seksama. Dia diam, menunggu Jelita melanjutkan ceritanya.

"Aku merasa... dia seperti mengenalmu," lanjut Jelita. "Tadi, setelah kepergianmu mengejar para penculik istri Walikota beserta kakaknya Li Wei, aku melihat Ling Mei melamun. Lalu, saat tersadar, dia tanpa sengaja menyebut merasa pernah mengalami sesuatu yang serupa, tetapi tidak bisa mengingatnya. Aku yakin yang dia maksudkan adalah kamu. Sayangnya, aku tidak bisa memastikannya karena dia segera pergi mengejar kalian."

Lynx masih terdiam, menunggu Jelita menyelesaikan kata-katanya, sambil menebak-nebak maksud ucapan Jelita mengenai Ling Mei.

"Aku yakin... Ling Mei adalah Leena," suara Jelita merendah, berusaha mengatasi rasa cemburunya. "Dia kehilangan ingatannya."

Lynx membeku, dadanya bergetar hebat, seperti dihantam gelombang emosi yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

Leena…

Nama itu membawa kerinduan yang sangat besar dan mendalam. Ia merasakan hasrat yang mendalam untuk segera menemukannya.

"Apakah kamu yakin?" Kata Lynx dengan suara bergetar. Dia berusaha menahan gejolak hasrat hatinya yang  menggebu-gebu.

Jelita menganggukkan kepalanya."Aku sangat yakin. Ekspresi itu, sangat mirip. Kata-katanya juga membuatku bertambah yakin."

Mata Lynx perlahan beralih ke arah rumah, ke tempat di mana Ling Mei berada.

Benarkah itu dia?

Jika benar…

Lynx mengepalkan tangannya, bingung antara perasaan senang dan sedih yang menggelayuti hatinya.

Bagaimana cara memastikannya?

Sementara itu, Jelita memilih kembali ke kamarnya. Ia dan Lynx diberikan kamar oleh Walikota sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkan mereka. Meskipun Walikota belum mendapatkan kepastian siapa yang mengalahkan Grandmaster, ia tetap bersyukur karena Lynx telah menyelamatkannya saat akan dibunuh Huo Zhen.

Lynx masih berdiri di halaman rumah Walikota, menatap langit malam yang semakin pekat. Kata-kata Jelita masih bergema di benaknya. "Aku yakin... Ling Mei adalah Leena. Dia kehilangan ingatannya."

Leena... Wanita yang selama ini ia cari dan rindukan. Dalam keadaan terpaksa, mereka terpisah karena kecelakaan di lubang dimensi saat mereka menuju dunia kultivasi. Jika benar Ling Mei adalah dirinya, maka takdir telah mempertemukan mereka kembali, namun dalam keadaan yang jauh berbeda.

Setelah berpikir dan membulatkan tekad, Lynx melangkah menuju ruangan tempat Ling Mei berada. Kali ini, langkahnya lebih hati-hati, seolah takut harapan yang baru saja tumbuh akan runtuh begitu saja.

Setibanya di depan pintu, Lynx menggunakan kemampuan mata tembus pandangnya untuk memastikan keadaan di dalam kamar, memastikan Ling Mei masih terjaga dan belum tidur.

Namun, saat itu pemandangan yang tidak terduga terlihatnya. Ling Mei sedang mengganti pakaiannya. Merasa wanita itu adalah Leena, Lynx memperhatikan setiap lekuk tubuhnya. Dia teringat bagaimana saat pertama kali mengenalnya, mereka berdua tidak berpakaian. Karena pengalamannya bersama adik perempuan di dunianya, dan pelajaran moral dari orang tuanya, Lynx masih bisa berusaha mengendalikan nafsunya selama dipulau, tentunya sebelum mereka menjalin hubungan.

"Leena, andai kamu tahu, bagaimana menderitanya aku harus menahan nafsuku melihat gadis secantik dirimu saat itu tanpa berbusana. Aku merindukanmu, merindukan kemesraan dan kehangatan tubuhmu." Batin Lynx.

Lynx terdiam, terpesona memandangi tubuh Ling Mei yang sedang mengganti pakaian dari balik pintu. Memandangi bukit kembarnya dan lembah dibawahnya, sambil mengenang kenangan-kenangan mereka."Jelita benar, jika lebih kuperhatikan, aku yakin dia memang Leena. Bentuk tubuhnya, bukit kembarnya sangat sama persis. Rasanya tidak mungkin jika ada seseorang yang kembar bisa benar-benar sama, kecuali... Ada Leena lain yang asli penduduk didunia ini yang identik dengan Leena ku."

Setelah melihat Ling Mei selesai mengganti pakaian, Lynx mulai mendekat ke arah pintu.

Tok. Tok.

Tak lama, pintu terbuka, memperlihatkan sosok Ling Mei yang telah mengganti seragam khas Sekte Api Langitnya dengan pakaian santai  namun masih menunjukkan khas seorang kultivator. Rambutnya yang biasanya terikat kini dibiarkan sedikit tergerai, menambah kesan anggun namun tetap penuh kewaspadaan.

"Ada apa?" tanyanya datar, tatapannya tajam menelisik Lynx dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Lynx terdiam melihat wajah Leena tanpa berkedip, wajah yang dirindukannya.

Ling Mei merasa kesal dan merinding melihat sikap pemuda didepannya. Pemuda ini menatapnya lekat-lekat, seakan ada sesuatu diwajahnya  "Apa lagi maunya pria mesum ini, aku akan memberinya pelajaran jika dia berani berniat memelukku lagi." batin Ling Mei.

Sementara Lynx yang tidak mengetahui isi hati Ling Mei, masih mencari sesuatu yang bisa menghubungkannya dengan sosok Leena yang ia kenal.

"Ling Mei," suaranya dalam dan bermakna, "aku ingin berbicara denganmu."

Ling Mei mengangkat alis, ekspresinya tetap dingin. "Jika itu penting, bicaralah. Aku tidak punya banyak waktu bicara denganmu."

Lynx menarik napas, lalu berkata dengan suara lebih pelan, "Aku merasa kita saling mengenal..."

Seketika, atmosfer di antara mereka berubah. Mata Ling Mei menyipit tajam, auranya yang semula tenang kini mengandung ketegangan.

"Kau salah orang," potongnya cepat. "Aku tidak mengenalmu, dan aku juga tidak peduli siapa yang kau pikir aku ini. Aku tahu kamu dan Jelita mengira aku adalah wanita kenalan kalian. Tapi percayalah aku tidak mengenal kalian, apalagi dirimu."

Lynx tidak bergerak, menatap mata Ling Mei, berusaha melihat apakah ada kebohongan dikata-katanha. Dia terus menatapnya dengan penuh harapan, mencoba menemukan hal yang mungkin bisa membuktikan wanita di depannya adalah Leena.

Namun, ekspresi Ling Mei semakin gelap. Tiba-tiba, ia meraih senjatanya dari cincin penyimpanan, sebuah pedang tipis berwarna merah tua, dan mengarahkannya ke arah Lynx dengan gerakan cepat.

Wush!

Kilatan cahaya merah menyambar ke arah Lynx, memaksanya mundur beberapa langkah. Meski tidak sepenuhnya serius menyerang, Ling Mei jelas tidak ingin Lynx mendekatinya lebih jauh.

"Jangan ganggu aku lagi," ucapnya dingin. "Jangan pernah berpikir aku adalah seseorang dari masa lalumu."

Tanpa memberi Lynx kesempatan untuk berbicara lebih jauh, Ling Mei menyarungkan kembali pedangnya, lalu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk pergi meninggalkan rumah Walikota.

Lynx tetap berdiri di tempatnya, menatap punggungnya yang perlahan menghilang dalam gelapnya malam.

Hatinya diliputi kebingungan dan kepedihan.

"Benarkah dia Leena yang kukenal. Atau memang dia kembaran Leena di dunia ini? Jika benar dia adalah Leena, mengapa ia tak mengingatku sama sekali? Ataukah... ia sengaja melupakan masa lalunya?"

Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat. Tak lama, Jelita dan Li Wei muncul dari balik lorong rumah Walikota, ekspresi mereka penuh keheranan. Mereka mendengar suara bentakan dari Ling Mei dan segera datang karena khawatir.

"Lynx, apa yang terjadi?" tanya Jelita dengan nada khawatir, matanya melirik ke arah pintu yang kini terbuka lebar, seolah masih menyisakan jejak kepergian Ling Mei yang tergesa-gesa.

Lynx tidak segera menjawab. Ia masih menatap kosong ke arah yang sama, seolah mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Jelita mendesah pelan, dia segera bisa menebak dan memahami yang telah terjadi melihat Lynx ada didepan kamar Ling Mei. Dia lalu mendekat dan menepuk bahu Lynx dengan lembut. "Aku tahu ini tidak mudah untukmu," katanya dengan suara lembut, "tapi kau tidak boleh terburu-buru."

Lynx menoleh ke arahnya, tatapannya dalam namun samar-samar menunjukkan gejolak perasaan yang ia coba sembunyikan.

"Kau harus bersabar," lanjut Jelita. "Jika kau memaksanya, kau hanya akan membuatnya semakin menjauh."

